Negaratoto -- Pada masa perang dingin, mata terpaku pada roket dan satelit besutan . Namun, dalam beberapa tahun terakhir ini, program luar angkasa lah yang mulai 'mengkhawatirkan' para ahli strategi AS.
Dilansir dari AFP, Tentara Pembebasan Rakyat atau tentara nasional China saat ini yang memegang 'kendali' atas roket luar angkasa yang meluncur. Jika dihitung, saat ini China meluncurkan roket jauh lebih banyak dari negara lain. Sepanjang 2018, China meluncurkan 39 roket, sedangkan AS 31 roket, menyusul 20 roket oleh Rusia dan 8 oleh Eropa.
China akan membangun stasiun ruang angkasa yang bisa mengorbit satu dekade mendatang. Rencana jangka panjang, mereka berharap dapat menempatkan 'taikonaut' di bulan untuk melakukan moonwalk pertama sejak 1972.China memang tercatat menghabiskan lebih banyak untuk program luar angkasa sipil dan militer jika dibandingkan Rusia dan Jepang. Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan memperkirakan anggaran China pada 2017 sekitar US$8,4 miliar.
Satelit pertama pada 1970, misi luar angkasa berawak pertama pada 2003, docking pertama dari pesawat ruang angkasa berawak ke modul yang mengorbit di 2012, dan aktivasi sistem navigasi satelit BeiDou, jawaban Cina untuk GPS."Jika mereka melanjutkan lintasan ini, mereka akan dengan cepat melampaui Rusia dalam hal kemampuan teknologi luar angkasa mereka," kata Todd Harrison, seorang pakar program ruang angkasa militer di Pusat Studi Strategis dan Internasional di Washington.
kemajuan China dalam eksplorasi ruang angkasa juga belum melampaui kemajuan AS. Kepala NASA memberi selamat kepada China atas pendaratannya di Chang'e-4 Moon. Namun, AS tetap tak bisa menggelar kerjasama dengan China. Salah satu Undang-Undang AS tahun 2011 melarang kerjasama ruang angkasa dengan Beijing, meskipun kongres dapat mengangkat pembatasan itu.
Pada 1960-an dan 1970-an, Washington dan Moskow menegosiasikan beberapa perjanjian tentang ruang, terutama untuk menjamin kerja sama ilmiah dan untuk melarang senjata pemusnah massal di ruang angkasa."Perjanjian terlalu samar untuk benar-benar yakin apa hasil hukum untuk sesuatu seperti penambangan luar angkasa," kata Frans von der Dunk, seorang profesor hukum ruang angkasa di Universitas Nebraska-Lincoln.


0 comments :
Post a Comment